Hampir setiap end of work days, aku memulai report progress project yang sedang aku pegang –Project Keren XYZ: Uji coba ketahanan mesin dengan memberi serangan misil bertubi – tubi pada saat yang bersamaan– dengan kata mutiara “berikut updates terkait Project Keren XYZ”
Report itu ditulis di PVCS Tracker. Benda merepotkan yang dipake untuk komunikasi antar kelompok yang terlibat di project. Kenapa merepotkan? Satu, karena benda itu ga nge-link ke email. Jadi ya nanti aku compose email sejenis untuk mengingatkan team. Dua, user interfacenya sama sekali tidak menyenangkan. Aku ga bisa underline, bold, atau italic poin penting yang ingin ku tekankan. Pun bisa ku underline, bold, atau italic aku masih ragu ada orang yang meluangkan waktunya untuk baca – baca (kecuali jika ada problem)
Apa lagi ya yang bikin PVCS Tracker itu merepotkan? Oh, karena itu digunakan internal. Padahal ya projext keren xyz itu kakinya ada di banyak tempat. Vendor A yang ngurus ini, vendor B untuk problem itu, vendor C dan D yang minjemin alat ini. Komplain di PVCS ga bakal summon orang – orang itu datang dan solve problem. Tetap menggunakan tjara djadoel, email. Atau kalau orangnya ga nongol2, telpon. Masih ga nongol? Ta laporin bos ku, biar bos ku nelpon bos mu. ![]()
Kadang kalau aku kumat malasnya, aku merapel report progress project itu jadi sekali tiga hari atau sekali seminggu. Disamping malas, sebenarnya aku BETE. Soalnya PVCS yang harusnya merupakan media interaktif antar person di dalam project, makin lama makin mirip blog pribadiku. Lha yang ngisi aku doang.
Project officer-nya create nih Project Keren XYZ. Dikasih judul dan deskripsi. Project ini di open sama Project Manager dan resmi dilempar ke kelompokku tanpa komentar apa – apa. Bos besar kelompokku bilang ke SPV ku, “ditindak lanjuti ya sesuai rapat”. SPV ku assign ke aku dengan sedikit kata pengantar. Naaaaaah, sejak detik itu, Project Keren XYZ itu jadi blog pribadiku. Aku doang yang nulis. Yang laen, jangankan komentar, nge-like aja kagak.
Gimana ga BETEK (sekarang pake K karena udah memuncak). Kadang aku kan berharap seseorang membaca laporan ku dan melihat betapa tololnya aku kemudian mengingatkan aku kalau “Eh, sepertinya kamu kurang teliti deh. Kucing rumah kan ga semuanya yang suka lobak. Bisa jadi dia tipikal ratu gitu yang cuman mau makan steak” Dengan komentar gitu, aku kan paham dimana kekuranganku. Bisa aja aku merasa too much di Project Keren XYZ ini jadi lengah. I mean, I am just a normal human being who’s easily miss something.
Tadi di puncak sebelku, aku ngoceh sendiri dengan suara lantang dan pastinya didengar oleh SPV-ku. (Gimana ga denger, setelah itu dia ketawa kok). Setelah aku kasih draft dokumentasi yang kurang lebih 900-an halaman audit message yang berpotensi bikin juling, aku nulis progress report ke PVCS.
SPV-ku ngingetin progress hari ini di update ke PVCS. Sambil nulis, aku bilang kalo aku lagi nge-blog nih. Di PVCS.
Aku lanjut ngedumel sambil bilang kok aku doang yang nulis PVCS. Email juga sendernya aku doang. Update PVCS kan sepaket dengan email berisi hal yang sama ke orang – orang di project itu juga. Setelah nulis di PVCS, aku buka sent item. Reply-all email sebelumnya yang pengirimnya adalah aku sendiri. Menghapus namaku di bagian to: dan menambahkan progress hari ini. Mbok ya ada gitu yang reply “Good job, Sari”. Setidaknya aku kan jadi gimana gitu perasaannya. Kayak orang suka – sukaan gitu, ga bertepuk sebelah tangan -one hand clap-. Atau ga merasa seperti penyiar radio, ngoceh sendiri. Penyiar juga kadang masih ada yang dengerin. Buktinya masih ada aja yang nelpon ke radio. Lha aku??
dont be mad.. even though you do only one hand clap.. I do full hand clap for your work..
“Good job, Sari” :p
errr..