Jagung Manis dan Karamel Gula Tebu

Suatu sore sepulang kantor, di pertigaan ke arah masjid yang biasa kulewati pergi dan pulang kantor, berdiri dengan kepulan asap sebentuk gerobag jagung rebus. Dari kejauhan sudah terlihat nyata, tapi aku masih cuek. Baru ketika papasan, endus endus aromanya manis. Dan hujan barusan reda. Romantis. *geplak*

Langkah buru – buru ingin segera sampai di kos mengalami percepatan negatif.

“Exa mau jagung rebus?” Ini memang tampak seperti pertanyaan, tetapi aslinya adalah ajakan. Cukup satu anggukan kepala, aku beralih ke abang penjual jagung rebus minta dibungkus dua.

Makan jagung rebus sore hari, setelah hujan, setelah Jakarta mulai dingin. Nyam nyam. Aku teringat jaman baheulak, waktu tanteku masih gadis. Sekarang beliau sudah tidak gadis dan anaknya sudah SMP kelas satu.

Ceritanya dimulai dengan adegan aku dan ayah ibu serta adik semua berkunjung ke rumah nenek di desa. Si tante lagi nyiapin bekal buat kakek. Mau diantar ke data, sebutan untuk ladang tempat kakek bekerja. Aku bilang ikut tanpa tau ternyata data itu jauh, ditempuh dengan jalan kaki, dan jalannya mendaki. Padahal secara harfiah, data itu datar, dan datar artinya tidak mendaki.

Oh, ya sudahlah. Toh pulang sendiri, aku lebih berpotensi nyasar. Aku ikuti tanteku sembari sedikit menggerutu dan mengibas – ngibaskan ilalang. Dan tanpa kusadari, eh sudah sampai rupanya.

Aku tak ikut makan, malah berputar – putar tak jelas, lihat kesana kemari, menikmati hijau hamparan ladang luas. Dan seorang nenek (aku lupa deh yang mana neneknya) memanggilku, “Sari, sinih. Mau jagung rebus, ini baru dipetik.”

Aku sumringah, bilang mau. Tadinya kukira jagung – jagung ini mau dibawa pulang dan direbus dirumah. Ternyata malah dibawa ke pondok kilang, tempat mengilang tebu untuk dimasak dan dibuat gula tebu.

Pondok kilang itu bentuknya segi empat. Ditengah – tengah ada tempat penampungan gula tebu yang diperas oleh kerbau. Ga kebayang kan gimana caranya kerbau bisa memeras tebu. Jadi kerbau itu diikat ke kayu yang terhubung ke dua tabung. Ketika kerbau bergerak mengitari pondok kilang, tabung itu juga bergerak berlawanan. Sang operator, kita bayangkan itu nenek yang tadi memanggilku. menyelipkan tebu diantara dua tabung. Voilla.. airnya masuk ke penampungan.

Air tebu dikumpulkan di wajan super raksasa, dimasak menjadi karamel untuk kemudian dicetak dan dibiarkan mengeras. Ke adonan karamel raksasa inilah jagung – jagung itu dimasukkan, dibiarkan matang bersama gula tebu.

Maniiiiiiiisssss sekali. Dan gurih karena cita rasa gula tebu yang meresap ke jagung muda. Aku jadi kangen pulang. Kangen rumah yang hampir setiap hari hujan melulu.

So, you're saying...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s