Jangan Bilang Siapa – Siapa
Ini rahasia.
Pagi tadi teman kantorku pada terheran – heran. Soalnya jam 8 pagi, udah nongol aja muka imutku dikantor. Gimana ga heran, setau mereka semalam aku ikut promote project dan pulang dini hari. Normalnya sih masuk siangan dikit masih boleh. Tadinya aku juga berniat begitu. tidur sepagian. Nanti sekitar jam 10 baru mulai mandi dan berangkat kantor jam 11. Duduk bentar nge-cek email dan bakal calon kerjaan. Trus jam 11.30 istirahat siang.
Tapi aku yang terlalu dedikasi dengan kantor yang membayarku dengan gaji rata – rata ini malah datang di jadwal normal ngantor. Agak telat sih, jam 8 lewat. Tapi ga masalah, soalnya aku udah absen fingerprint jam 00.00.30 dini hari. Hebat bukan.
Promosi itu iklan. Eh, bohong. Promosi itu semacam pindahin produk yang udah dibikin di rumah buat dijual di pasar. Nah aku di promote ini tugasnya buat support. Duduk manis sambil main Plant vs Zombie. Menunggu kalau ada problem atau mas Aryo yang punya akses ke region “dunia luar” bingung dengan dokumentasi promosi. Nah begitu ada yang tanya, aku baru menjawab. Kalau engga, idle. Kerjanya ga berat. Makanya yang ada cuman ngantuk, bukan cape.
Kembali ke rasa terheran – heran teman kantorku. Aku hanya menjawab, “Tadi jam tujuh udah kepalang bangun. Tidak bisa tidur lagi. Jadinya aku memutuskan ke kantor aja.” Kejadian sebenarnya emang kurang lebih begitu. Keren kan aku, tidur jam 1-an dini hari eh jam 7 udah bangun dan seger kembali. Bisa aja gitu jam 7 udah bangun. Aneh. Padahal aku tipe orang dengan durasi tidur 8 jam perhari.
Kenapa coba aku sempet – sempetnya bangun normal?
Ini gara – gara sebelum tidur buka twitter. Sialan banget deh buka twitter dan yang nongol di muka adalah #memetwit. Waktu baca sih kagak takut – takut amat. Tapi giliran tidur, ternyata alam bawah sadarku meng-generate mimpi buruk. Asyyeeeem banget.
Ya sudah. Jadinya setelah bangun aku ya males tidur lagi. Ga bisa tidur kan emang. Dari pada spooky sendiri di kos karena salah satu scene di mimpi itu mirip dengan kamar ku, mending menyegarkan otak dengan ke kantor. Mana ini Friday the thirteen.
Pokoknya jangan bilang siapa – siapa kalau aku ga tidur lagi bukan cuman karena aku GA BISA tidur lagi tapi TAKUT tidur lagi. #stupid
One Hand Clap
Hampir setiap end of work days, aku memulai report progress project yang sedang aku pegang –Project Keren XYZ: Uji coba ketahanan mesin dengan memberi serangan misil bertubi – tubi pada saat yang bersamaan– dengan kata mutiara “berikut updates terkait Project Keren XYZ”
Report itu ditulis di PVCS Tracker. Benda merepotkan yang dipake untuk komunikasi antar kelompok yang terlibat di project. Kenapa merepotkan? Satu, karena benda itu ga nge-link ke email. Jadi ya nanti aku compose email sejenis untuk mengingatkan team. Dua, user interfacenya sama sekali tidak menyenangkan. Aku ga bisa underline, bold, atau italic poin penting yang ingin ku tekankan. Pun bisa ku underline, bold, atau italic aku masih ragu ada orang yang meluangkan waktunya untuk baca – baca (kecuali jika ada problem)
Apa lagi ya yang bikin PVCS Tracker itu merepotkan? Oh, karena itu digunakan internal. Padahal ya projext keren xyz itu kakinya ada di banyak tempat. Vendor A yang ngurus ini, vendor B untuk problem itu, vendor C dan D yang minjemin alat ini. Komplain di PVCS ga bakal summon orang – orang itu datang dan solve problem. Tetap menggunakan tjara djadoel, email. Atau kalau orangnya ga nongol2, telpon. Masih ga nongol? Ta laporin bos ku, biar bos ku nelpon bos mu. ![]()
Kadang kalau aku kumat malasnya, aku merapel report progress project itu jadi sekali tiga hari atau sekali seminggu. Disamping malas, sebenarnya aku BETE. Soalnya PVCS yang harusnya merupakan media interaktif antar person di dalam project, makin lama makin mirip blog pribadiku. Lha yang ngisi aku doang.
Project officer-nya create nih Project Keren XYZ. Dikasih judul dan deskripsi. Project ini di open sama Project Manager dan resmi dilempar ke kelompokku tanpa komentar apa – apa. Bos besar kelompokku bilang ke SPV ku, “ditindak lanjuti ya sesuai rapat”. SPV ku assign ke aku dengan sedikit kata pengantar. Naaaaaah, sejak detik itu, Project Keren XYZ itu jadi blog pribadiku. Aku doang yang nulis. Yang laen, jangankan komentar, nge-like aja kagak.
Gimana ga BETEK (sekarang pake K karena udah memuncak). Kadang aku kan berharap seseorang membaca laporan ku dan melihat betapa tololnya aku kemudian mengingatkan aku kalau “Eh, sepertinya kamu kurang teliti deh. Kucing rumah kan ga semuanya yang suka lobak. Bisa jadi dia tipikal ratu gitu yang cuman mau makan steak” Dengan komentar gitu, aku kan paham dimana kekuranganku. Bisa aja aku merasa too much di Project Keren XYZ ini jadi lengah. I mean, I am just a normal human being who’s easily miss something.
Tadi di puncak sebelku, aku ngoceh sendiri dengan suara lantang dan pastinya didengar oleh SPV-ku. (Gimana ga denger, setelah itu dia ketawa kok). Setelah aku kasih draft dokumentasi yang kurang lebih 900-an halaman audit message yang berpotensi bikin juling, aku nulis progress report ke PVCS.
SPV-ku ngingetin progress hari ini di update ke PVCS. Sambil nulis, aku bilang kalo aku lagi nge-blog nih. Di PVCS.
Aku lanjut ngedumel sambil bilang kok aku doang yang nulis PVCS. Email juga sendernya aku doang. Update PVCS kan sepaket dengan email berisi hal yang sama ke orang – orang di project itu juga. Setelah nulis di PVCS, aku buka sent item. Reply-all email sebelumnya yang pengirimnya adalah aku sendiri. Menghapus namaku di bagian to: dan menambahkan progress hari ini. Mbok ya ada gitu yang reply “Good job, Sari”. Setidaknya aku kan jadi gimana gitu perasaannya. Kayak orang suka – sukaan gitu, ga bertepuk sebelah tangan -one hand clap-. Atau ga merasa seperti penyiar radio, ngoceh sendiri. Penyiar juga kadang masih ada yang dengerin. Buktinya masih ada aja yang nelpon ke radio. Lha aku??
Let’s Clean Up
I just sent an email this afternoon related to s/w-license-is-about-to-expired-in-three-days. This remind me, hell yeah I also have things which already expired but i am keeping it just in case i am going to sniff sniff and use it which i am not and never would be.
And since new year is approaching, let’s clean up the mess.
Confession
Dear God,
I guess I’ve made a lot of progress this whole year. Thanks for all opportunities. All chances you gave me, either I took or simply ignore and then regret it later. Thanks for everything.
And this life is getting so amusing each day. Since I worked in this new place, I learn a lot of stuff. Not only work related things but also how to see my life in different angle.
I met a lot of people from time to time. Some are so friendly. Some are too cold to be friend with. Actually it’s only one person who’s acting so cold with everyone. She’s so ignorant. I never saw her smile except when she was around her own group. Doesn’t she feel lonely?
Once I met her on restroom. The 2nd room has blood on the floor covered with tissue. I was about to pee in there but my friend stopped me. When she was stepping to that room, no one said anything. Including me. We are all too scared.
Aside from progress which I assume are all positives, there are also some bad things I made. And do You know what is worst? Well, this is stupid question. Of course you know. But let me made my confession, when I made those mistakes (small mistakes and big big big mistake), I clearly understood that they were mistakes.
God, I am wishing your mercy. I’m not regretting anything. A friend told me once, Life is simple. Pick your choice and do not regret. That’s what I meant with I am not regretting anything. I did those mistakes with my sharp mind, not the dull one. I admit it and I try so hard not to make the same mistake. But I don’t regret it.
Sometimes I felt like life was a bit too harsh for me. Like on lazy Saturday, my SPV called and told me that on Sunday and Monday I should work. I automatically upset. I dragged my feet to reach office. Trying to bear with that fact. Well, those two days were not that bad in the end.
I guess I was a bit relief with that booty-call-from-office. It gave me reason not to execute my crazy plan earlier. Think back again, I was so relief actually. God, I have nothing else to say but thank You.
Well God, this is a bit stupid and irrelevant with previous paragraphs. I dream a home where I could relax all my muscle after working eight hours a day from Monday to Friday.